Memahami Kompleksitas

Konsep “kompleksitas” sudah ragam digunakan dalam berbagai bidang ilmu. Dalam bidang fisika, misalnya, merujuk pada fenomena multivariabel dan multifaktor dengan hubungan yang sifatnya nonlinear dan multikausalitas. Dalam bidang sosial, kompleksitas merujuk pada situasi rumit (dibedakan dari kompleks) karena banyaknya pelaku yang terlibat dengan kepentingan yang beragam dan sifat masalah yang tidak diketahui hubungan sebab akibatnya. Kompleksitas berbeda dengan rumit atau complicated maupun kacau balau atau chaotic.Dari beberapa pertemuan ilmiah, saya sering mendengar istilah ini disampaikan baik dalam makalah maupun dalam presentasi. Barangkali juga telah banyak dalam artikel ilmiah istilah ini diartikulasikan dengan pengertian yang sudah menjadi konsensus kalangan akademis. Kadang juga saya menggunakannya, secara sadar, untuk menyampaikan maksud atas sesuatu yang benar-benar tidak saya pahami. Padahal dengan demikian, saya mengurangi makna konsep ini yang sesungguhnya.Dalam teori dan praktek perencanaan kita, konsep ini tidak berupaya didaratkan dalam diskusi akademik ilmiah maupun pendidikan. Konsep atau istilah ini mengandung ragam interpretasi yang tidak tidak tuntas. Mohon maaf, sebagian dapat saya anggap sebagai mengambang. Kompleksitas dianggunakan untuk menggambarkan fenomena “kompleks” yang disamakan dengan istilah rumit maupun runyam. Jadi, ketika ada yang berbicara mengenai situasi kompleks, maka yang terbayang adalah kondisi yang tidak dapat diselesaikan.Saking “geregetan“-nya karena seringnya istilah ini diperdengarkan dan tidak terlalu jelasnya maksud penggunaannya, pada satu sesi seminar mengenai penanggulangan kemacetan lalu lintas, saya tanyakan bagaimana kompleksitas sebagai konsep bisa dipahami lebih praktis dengan tujuan mengarahkan strategi dan tindakan kita. Jawaban yang saya dapatkan kembali tidak tuntas, atau mengambang, namun sudah mengisi keinginan untuk lebih bekerja praktek yang lebih konkret. Kurang lebih saya simpulkan dari tanya jawab tersebut: aksi saat ini lebih penting dari analisis masalah dan rencana jangka panjang.Sayang sekali tidak ada perencana (ruang) yang hadir pada saat itu, sehingga diskusi seharusnya bisa lebih menarik. Konsep kompleksitas telah mengarahkan pada perubahan paradigma atau kerangka kerja berbagai bidang ilmu untuk memahami situasi. Bekerja dengan cara biasa dan dengan pedoman serta standar sering digunakan oleh perencana kita untuk menyusun rencana. Dengan pemahaman kompleksitas seperti diungkapkan dalam paragraf pembuka tulisan ini sudah seharusnya berhenti untuk bekerja untuk mencari pola atas situasi, tidak lagi melakukan studi meja berkepanjangan, dan hanya mengandalkan perencanaan skenario.Tidak mudah untuk menerjemahkan konsep kompleksitas ke dalam rencana tata ruang. Dibutuhkan sistem yang adaptif untuk mengelola ruang kita bersama: tidak takut melakukan revisi apabila ada hubungan perubahan. Kuncinya adalah kepemimpinan dalam menata ruang bersama, bekerja dengan beragam perspektif dan kepentingan, dan kemampuan membaca faktor kunci perubahan untuk perbaharuan sistem.Dengan proses perencanaan ruang yang ada saat ini, saya masih belum melihat bahwa praktek merencana kita sudah berani berhadapan dengan kompleksitas. Pemahaman atas kompleksitas menuntut fasilitasi atas keberagaman kepentingan stakeholder dan memilahnya, menjadi aktor yang lebih aktif (tidak cukup hanya menyusun rencana), dan menciptakan ruang yang adaptif untuk perubahan ruang pada masa mendatang. Apabila belum dilakukan, tidak sadar kita juga mengerdilkan diri dari perencana menjadi perekayasa (engineer). Peran yang terakhir bekerja pada situasi dengan pengetahuan yang lengkap (known) atau dapat diketahui (knowable). [ ]2015©Gede Budi Suprayoga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: