Penggalian Isu untuk Perencanaan Kawasan Sekitar Obs. Bosscha

Abstrak

 

Sekali lagi, ini adalah riset kecil-kecilan yang dilakukan dalam salah satu rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh KK PPK  – ITB (yang diwakili oleh saya sendiri) bersama dengan tim dari University of Florida (UFL). Tujuan dari kegiatan ini adalah mengembangkan berbagai gagasan kreatif dalam upaya mengurangi pengaruh urbanisasi terhadap fungsi observatorium. Dalam tahap awal dilakukan, dilakukan riset lapangan yang dikerjakan dengan memanfaatkan bermacam teknik pengumpulan data yang kreatif, dengan subyek penelitian yang beragam (anak-anak maupun penduduk lokal dewasa).

 

Dari riset ini, dapat ditemukan berbagai isu yang mempengaruhi perkembangan kawasan sekitar Obs. Bosscha. Beranjak dari penggalian isu tersebut, dapat diarahkan pengembangan kawasan pada masa selanjutnya, melalui berbagai macam bentuk intervensi: perencanaan kawasan, pengendalian pemanfaatan ruang, maupun pemberdayaan masyarakat.

 

Kata kunci: perencanaan kawasan, Obs. Bosscha, community mapping, anak

 

A. Impresi Tim dari University of Florida terhadap Rona Kawasan

 

Perkembangan urbanisasi dituding merupakan penyebab utama terhadap gangguan lestarinya fungsi observatorium. Disadari oleh tim, tidak mudah untuk mengatasi urbanisasi dengan potensi wisata (yang mengandalkan kesejukan alam dan panorama pegunungan) sebagai pendorongnya, karena masyarakat membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang dapat meningkatkan taraf hidup mereka. Dalam hal ini, perkembangan kawasan perkotaan Lembang bukanlah faktor penyebab; yang dibutuhkan adalah sinergi antara perkembangan perkotaan dengan pelestarian fungsi Obs. Bosscha melalui perencanaan ruang yang lebih terintegrasi.

 

Dalam satu sisi, perkembangan kawasan perkotaan dilihat berlangsung tidak terkendali. Permukiman yang berada di lereng perbukitan yang curam menunjukkan ketidakmampuan pemerintah daerah untuk melakukan pengendalian pemanfaatan ruang di kawasan yang dilindungi (protected area). Adanya rumah dengan ketinggian yang melampui bangunan lain di permukiman menimbulkan pertanyaan perihal keberadaan rencana detail tata ruang maupun penataan bangunan dan lingkungan. Kawasan perkotaan dipadang tidak memiliki perencanaan infrastruktur yang kurang efisien. Jalan lokal yang “membingungkan” menyulitkan orientasi arah bagi pendatang. Jaringan air bersih yang tidak terencana dengan baik ditunjukkan melalui persilangan saluran yang kurang tertata. Beberapa tempat, air bersih menggunakan mata air dari pegunungan yang disalurkan langsung melalui pipa-pipa kecil ke rumah-rumah yang memperlihatkan tidak adanya perencanaan sama sekali.

 

Disini memperlihatkan adanya perbedaan cara pandang peneliti dari luar (foreign researcher) terhadap konteks lokal. Para peneliti tersebut memandang kawasan perkotaan benar-benar tidak terencana sama sekali, yang ditunjukkan dengan “ketidakteraturan”. Dalam prakteknya, sebuah rencana membutuhkan upaya yang melibatkan komunikasi dengan masyarakat yang membutuhkan waktu lama dan sangat bergantung dari keterkaitan politik lokal. Hal-hal tersebut tidak dapat diterima dengan mudah oleh peneliti asing yang mana di negaranya telah memiliki konteks politik yang mapan dengan kelompok politik  yang kekuatannya berimbang.

 

B. Pembuatan Film oleh Anak-anak Kinderdorf dengan Latar Belakang Obs. Bosscha 

 

Sebuah tim kecil dibentuk, beranggota tiga orang (Kevin Thompson, Jocelyn Widmer (UFL) dan Budi Suprayoga (ITB)), membuat film anak-anak bertemakan Obs. Bosscha. Sebelumnya anak-anak (yang sebagian besar berasal dari Kinderdorf, sebuah panti asuhan yang berbatasan di sebelah utara Obs. Bosscha), dimintakan pendapatnya mengenai lingkungan sekitar. Terdapat 9-10 anak yang berpartisipasi. Tempat tinggal mereka memiliki keuntungan karena berada di tempat yang sejuk dengan lingkungan sekitar yang penuh dengan vegetasi dan ruang bermain. Sedikit sekali, bahkan tidak ada yang sama sekali, menyatakan adanya keterkaitan dengan Obs. Bosscha. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa anak-anak kurang terekspos dengan Obs. Bosscha, meskipun menandainya sebagai tempat yang menyenangkan untuk bermain.

 

Community mapping (pemetaan komunitas) yang dilakukan oleh anak-anak memperlihatkan hasil yang berbeda. Anak-anak dengan baik mampu menggambarkan lingkungan sekitar mereka, termasuk posisi tempat tinggal mereka terhadap Bosscha dan lokasi-lokasi yang mereka sukai. Obs. Bosscha digambarkan tepat berada di atas tempat tinggal mereka, namun tidak memperlihatkan ketertarikan emosional dengan kompleks tersebut. Hal ini memperlihatkan adanya peluang bagi menggugah kesadaran anak terhadap pelestarian Obs. Bosscha.

Pembuatan film oleh anak-anak memperlihatkan partisipasi anak dalam pemahaman terhadap masalah yang dihadapi oleh Obs. Bosscha. Tim sepakat dengan anak-anak untuk menyusun sebuah narasi film dari awalnya. Narasi dibangun melalui imajinasi anak-anak, yang dirangkai anak-anak melalui story board sebagai dasar penyusunan skenario. Pada skenario, dikisahkan anak-anak bertemu dengan alien (makhluk dari planet lain) di kompleks Obs. Bosscha. Alien dan anak-anak tersebut dikisahkan menjalin pertemanan. Alien tersebut diperkenalkan dengan bumi, Lembang dan lingkungan Obs. Bosscha yang lestari. Pelajaran yang dapat diambil bahwa film atau media kultural lain dapat menjadi langkah awal untuk menggugah kesadaran masyarakat terhadap suatu isu, sebelum ini nantinya diharapkan berkembang menjadi tindakan bagi penyelamatan fungsi observatorium oleh “tetangga” di sekitar kompleks.

 

C. Film Naratif tentang Penjual dan Pemain Layang-Layang di Pusat Perkotaan Lembang

 

Layang-layang menjadi entry point untuk mengamati permasalahan masyarakat di pusat Kota Lembang. Pembuatan film ini melibatkan tiga orang peneliti (Kevin Thompson dan Brittany Bourgoult (UFL) dan Budi Suprayoga (ITB)).

 

Layang-layang merupakan permainan tradisional yang tetap digemari oleh berbagai kalangan, sekaligus diharapkan dapat mengungkapkan sekelumit masalah yang dihadapi oleh masyarakat, diantaranya: ketersediaan ruang terbuka dan ruang bermain anak-anak. Tim mewawancarai seorang penjual layang-layang perihal persoalan yang dihadapi terkait kehidupannya menjadi penjual. Rangkaian penjualan yang panjang (dibeli di Kota Bandung oleh perantara, sampai akhirnya ke pengecer) dengan margin keuntungan yang kecil (per layangan dihargai rata-rata Rp. 500,-) memperlihatkan, berjualan produk ini bukanlah kegiatan yang prospektif. Ia menunjukkan bahwa berjualan layangan adalah kegiatan sampingan, selain berdagang makanan kecil secara reguler. Permintaan layanan yang konstan saat ini dipandang dapat menambah penghasilan. Tidak banyak yang dihasilkan dari berjualan layangan, namun film ini menunjukkan adanya persoalan terkait sekelompok masyarakat tertentu yang kurang memperoleh tempat dari “geliat”

 

Terdapat beberapa tempat yang diamati sebagai tempat bermain anak-anak yaitu: jalan, kebun pribadi, halaman maupun atap rumah. Tidak jarang, anak-anak mengalami bahaya yang ditimbulkan oleh lalu lintas yang melalui tempat bermainnya. Film ini menggugah salah satu persoalan ruang di Lembang yang terkenal sebagai tempat wisata, yaitu kurangnya ruang bagi masyarakat lokal untuk beraktivitas dibandingkan yang disediakan resort dan hotel wisata. Lahan-lahan dengan ruang terbuka yang leluasa justru dimiliki oleh sejumlah hotel yang menunjukkan “kesenjangan” pemanfaatan ruang oleh masyarakat. Hal ini memerlukan komitmen kuat dari pemerintah daerah untuk menyediakan ruang berkumpul dan berekreasi bagi masyarakat.

 

C. Community Mapping oleh Anak-anak dan Eksplorasi Permasalahan Obs. Bosscha oleh Masyarakat di Pusat Kota Lembang

 

Dengan tim kecil yang sama dengan sebelumnya, dilakukan pemetaan komunitas oleh anak-anak di pusat perkotaan Lembang. Pemetaan komunitas tidak menunjukkan keterkaitan yang kuat dengan keberadaan Obs. Bosscha. Padahal, pengaruh aktivitas di pusat perkotaan sangat besar terhadap fungsi observatorium. Hal ini menunjukkan “ketidaktahuan” dan kurangnya informasi terhadap peran Obs. Bosscha. Secara kasat mata, masyarakat dapat melihat salah satu teleskop yang berdiri di kompleks Obs. Bosscha dari pusat perkotaan. Dalam hal ini, masih diperlukan usaha sosialisasi terhadap peran dan fungsi Obs. Bosscha terhadap masyarakat.

 

Peta komunitas yang dibuat anak-anak masih sangat terbatas pada lingkungan bermain. Tidak heran mereka hanya menandai lokasi-lokasi yang sesuai digunakan untuk bermain. Namun, tidak masuknya Obs. Bosscha ke dalam peta komunitas memperlihatkan masih “berjaraknya” antara Obs. Bosscha dengan komunitas yang sebenarnya masih berada dalam jangkauan 2 km ini.

 

Penggalian permasalahan oleh masyarakat turut memperkuat kesimpulan di atas. Sebagian besar menyatakan mereka tidak mengenal masalah yang dihadapi observatorium, namun dapat memahami bahwa urbanisasi di Kawasan Lembang berlangsung tidak terkendali. Terjadi banyak pelanggaran tata ruang, yang sebenarnya dapat mengurangi fungsi Lembang sebagai kawasan konservasi maupun mengurangi citranya sebagai kawasan wisata dengan kesejukan dan pemandangan yang indah. Pengetahuan ini hanya terbatas pada kelompok masyarakat terdidik yang memperoleh informasi melalui media maupun kelompok pegawai pemerintahan.

 

Selain itu, muncul pendapat bahwa Obs. Bosscha kurang memberikan sosialisasi terhadap isu-isu yang dihadapinya. Obs. Bosscha dipandang kurang memberikan pengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat. Bahkan, ada diantara masyarakat yang tinggal di pusat perkotaan Lembang selama hidupnya belum pernah memasuki kompleks Obs. Bosscha. Obs. Bosscha memiliki kesan tertutup dan hanya diperuntukkan bagi kelompok masyarakat yang terpelajar. Dengan demikian, masih terdapat “jarak” yang perlu dijembatani oleh pihak ITB sebagai pengelola dengan masyarakat sekitar yang memberikan pengaruh, sebelum ITB akan melakukan program-program pelestarian fungsi observatorium.  

 

D. Penutup

 

Dari kegiatan yang dilakukan oleh Univeristy of Florida bersama dengan KK PPK – ITB, dapat dikumpulkan berbagai permasalahan dalam pengembangan kawasan perkotaan Lembang dan pelestarian fungsi observatorium pada masa mendatang:

 

1.   Masyarakat perlu dilibatkan dalam proses perencanaan pengembangan kawasan perkotaan Lembang, serta menyadari keberadaan Obs. Bosscha di dalam lingkungan mereka, terutama mereka yang tinggal berdekatan dengan kompleks;

2.   Pemberdayaan masyarakat perlu mendapat perhatian utama. Selama ini terdapat citra bahwa ITB kurang “menyentuh” kesejahteraan masyarakat di sekitarnya dan ada kesan ITB tidak berbuat apa pun bagi masyarakat, terkait perbaikan ekonomi;

3.   Perlu integrasi antara perencanaan yang dibuat antara pemerintah daerah terhadap kawasan perkotaan Lembang atau Bandung Utara dengan kompleks Obs. Bosscha dan sekitarnya untuk menjaga pelestarian kompleks. Keduanya memang tidak dapat dipisahkan. Hal ini hanya dapat dilakukan apabila terdapat kesadaran yang memadai dari pihak masyarakat didukung sosialisasi yang intensif oleh ITB.  

 

2008 © Gede Budi Suprayoga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: