Bandung: The Emerging Creative City?

Tidak dengan promosi berlebihan, sekelompok masyarakat Kota Bandung menggelar kegiatan Helar Festival. Kegiatan ini berlangsung mulai dari pertengahan bulan lalu sampai akhir Agustus. Kegiatan ini melibatkan puluhan komunitas dan pelaku industri kreatif. Ada beberapa kegiatan yang diselenggarakan, antara lain: lokakarya film indie, festival hijau, lokakarya temu kerajinan bamboo, artepolis (arsitektur perkotaan), helar kriya, festival jazz, dan desain gaya angkot.

Bandung menjadi proyek percontohan kota kreatif di Asia Timur dan Asia Tenggara. Ada faktor-faktor yang dianggap mendukung keberadaan Bandung sebagai kota kreatif. Kota ini merupakan kota metropolitan dengan penduduk diatas 2 juta jiwa yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide-ide di antara penduduknya. Sebagian besar penduduknya adalah mereka yang berusia produktif yang potensial mendatangkan ide-ide segar. Faktor lainnya adalah kota ini memiliki perguruan tinggi yang dianggap sebagai pusat inkubasi kreatif.

Dalam acara pembukaan kegiatan ini, Gubernur Jawa Barat yang baru, Ahmad Heryawan, menyatakan peluang industri kreatif untuk meningkatkan perkembangan ekonomi (Kompas, 18 Juli 2008). Namun, tidak ada perhatian yang memadai oleh pemerintah kota yang saat itu tengah “panas” karena menjelang pemilihan walikota. Sebagian beranggapan bahwa pemerintah kota hanya membantu apabila sektor kreatif ini mendatangkan pendapatan bagi kota.

Ada optimisme maupun pesimisme di tengah kegiatan ini. Tetapi, ada yang perlu dipikirkan: sudah layakkah Bandung menjadi sebuah kota kreatif?

Kecenderungan Regional dan Global

Studi yang dilakukan oleh Yusuf dan Nabeshima (2005) melihat kecenderungan dari perkembangan negara-negara di Asia Pasifik. Pertama, terjadinya penurunan kontribusi GDP dai produksi yang dihasilkan di daerah perdesaan, dimana penggerak utama perekonomian adalah aktivitas perkotaan. Kedua, sektor perkotaan lebih banyak didominasi oleh kegiatan jasa yang berkontribusi sebesar tiga perempat dari PDRB perkotaan. Di area pusat perkotaan kota-kota megapolis, jasa merupakan lapangan kerja utama, dengan industri pengolahan berada di pinggiran perkotaannya. Ketiga, tingginya kecepatan pertumbuhan sektor jasa ini, di antaranya berupa jasa bisnis dan industri kreatif dengan nilai tambah yang sangat besar. Keempat, muncul kecenderungan penurunan yang konstan dari biaya transportasi dan pergeseran berkelanjutan dari mix product item-item yang lebih ringan, namun dengan nilai yang lebih tinggi. Kecenderungan keempat ini merupakan negasi dari kecenderungan awal, dimana pemilihan terhadap pusat perkotaan yang berdekatan dengan sumber daya alam.

Studi tersebut mengimplikasikan dua hal. Kota, terutama pusat kota, kian penting sebagai pusat kegiatan jasa, yang di antaranya merupakan industri kreatif. Terjadinya pergeseran penting dalam perkembangan ekonomi kota, yang mana tidak lagi didorong secara dominan oleh kegiatan industri pengolahan. Back to the city movement memberikan peluang-peluang yang sangat menguntungkan dalam berusaha, terutama didukung oleh harga lahan yang murah. Kedua, pertimbangan lokasi yang mendasari perkembangan sektor jasa. Didukung oleh rendahnya harga lahan, industri kreatif memproduksi barang-barang yang tergolong mudah dibawa dan tidak membutuhkan transportasi berat. Secara meyakinkan disebutkan oleh Yusuf dan Nashima (2005) bahwa dalam perkembangan ke depannya, kota-kota di Asia Timur akan lebih banyak digerakkan karena pertumbuhan kelas menengah yang kaya.

Seberapa besar sebenarnya kekuatan industri kreatif ini untuk menggerakkan ekonomi perkotaan? Singapura, Hongkong, dan Taiwan mampu menciptakan share industri kreatif terhadap PDB sebesar 3,0%, 3,8%, dan 5,9%. Amerika Serikat jelas memiliki tingkat share yang lebih tinggi, yaitu 7,8% setiap tahunnya. Yang menarik disimak adalah pertumbuhan industrinya yang dapat mencapai 10% di Taiwan dan 22 % di Hongkong. Hal ini jelas merupakan potensi yang sangat besar untuk dikembangkan. Subsektor-subsektor yang berkembang di kedua negara terakhir, yaitu: design, software, movie-making, electronic games, dan percetakan. Studi oleh Scoot dan Storper (2003) memperlihatkan bahwa industri kreatif di Singapura menghasilkan multiplier effect sebesar 1,66 – 1,76, khususnya industri desain pakaian.

Di Amerika Serikat, bisnis yang terkait industri kreatif mencapai 578.487 dengan memperkejakan 2.965.893 orang pekerja pada sektor visual art dan fotografi, yaitu mencapai 35% dan 24% dari total (The City Report, 2005). Tidak akan ada yang menyangkal bahwa Amerika Serikat merupakan produsen film yang besar dengan film yang diproduksi dapat mencapai pasar global. Pekerja subsektor ini pun tidak hanya dihitung dari jumlah aktor dan aktris, melainkan keseluruhan subsistem yang mendukung. Petumbuhan sektor industri kreatif mencapai 5,5%, dibandingkan pertumbuhan nasional AS yang hanya mencapai 3,8 persen.

Kota-kota di Indonesia Menyongsong Industri Kreatif

Beberapa media massa di Indonesia memberikan angka yang berbeda perihal kontribusi industri kreatif terhadap PDB. Sebuah angka yang mengejutkan disebutkan Tempo (2007), industri kreatif menyumbang sebesar 33,5 % dari PDB dan tumbuh sebesar 15% setiap tahunnya.

Angka tersebut jelas perlu ditelusuri untuk mencari klarifikasi, karena selama ini Indonesia tergolong negara yang masih menggantungkan kepada sektor migas dalam pertumbuhan ekonominya. Dengan mempertimbangkan share sektor-sektor lain terhadap PDB, maka angka tersebut sangat mustahil. Tentu saja ada over-statement bahwa seluruh sektor jasa tergolong ke dalam industri kreatif.

Angka yang lebih kecil lagi disebutkan oleh pemerintah, yaitu sebesar US S 20 miliar atau menyumbang 1.9 % terhadap PDB. Pertumbuhannya masih lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nasional, yaitu sekitar 7,3% (nasional sendiri 5,6%). Kesimpangsiuran “klaim” ini mendorong pemerintah melalui Departemen Perdagangan untuk membuat pemetaan terhadap industri kreatif nasional. Menurut Studi Industri Kreatif Indonesia (2007), share terhadap PDB adalah sebesar 6,3 %.

Sangat disayangkan bahwa perhatian terhaap industri kreatif ini tergolong telat dan masih berorientasi kepada kawasan perkotaan. Sesungguhnya, sudah sejak lama Indonesia menyimpan potensi perkembangan industri kreatif, tidak hanya baru-baru ini. Memang, liputan terhadap kawasan perkotaan lebih menonjol dibandingkan kawasan pinggirannya. Lihat saja, desa-desa di Bali yang mampu menciptakan kerajinan tangan yang berorientasi ekspor, seperti Mas, Payangan, dan sekitarnya. Namun, industri kreatif ini harus dilihat sebagai proses yang panjang dan dalam satu sisi mampu menjadi pendorong ekonomi desa sehingga perlahan merubah kawasan menjadi sebuah kota. Ubud mulanya adalah sebuah desa kecil dengan penduduk bertani yang karena pelajaran kewirausahaan dari Walter Spies, seorang Jerman yang datang ke Ubud pada tahun 1925, maka penduduk desa mampu mengemas produknya sesuai kebutuhan wisatawan. Sampai sekarang, Ubud tetap memproduksi kerajinan tangan, lukisan, dan pertunjukan seni yang menyebabkan wisatawan tertarik untuk datang ke kawasan.

Yogyakarta memiliki satu merk fashion yang dikenal secara nasional, yaitu Dagadu. Dagadu menjadi daya tarik wisatawan nusantara untuk datang, namun perlahan muncul pesaing-pesaing yang melakukan copycat terhadap produk tersebut. Antara produk yang asli dan palsu dijual kepada wisatawan. Barangkali sulit membayangkan, dalam masyarakat yang tergolong kehidupan konservatif mampu menumbuhkan potensi kreatif seperti di Yogyakarta. Beruntunglah, bahwa Yogyakarta menjadi tempat bagi mereka yang ingin bersekolah/kuliah. Yogyakarta menjadi tempat bertemu anak-anak muda dari berbagai daerah yang secara intensif saling bertukar gagasan-gagasan kreatif. Kini, Yogyakarta dihipotesiskan bergerak dalam seni pertunjukan dan barang antik sebagai potensi industri kreatifnya (Simatupang, 2007).

Bandung mendapat tempat terhormat di antara kota-kota se-Asia Timur dan Asia Tenggara. British Council menetapkan Bandung sebagai proyek percontohan dalam pengembangan industri kreatif di kawasan tersebut.”Geliat” industri kreatif di Bandung dimulai oleh kehadiran distro-distro dan industri rekaman yang memperoduksi merek fashion yang ternyata mendapat tempat di kalangan anak-anak muda. Industri clothing sendiri mencapai jumlah 700 unit, dengan sebagian besar mencari bahan baku di Jawa Barat atau perpanjangan tangan dari usaha di Kota Bandung. Salah satu perusahan tersebut adalah CV Lintas Avassus Indsonesia yang memproduksi pakaian untuk distro Airplane. Di bidang rekaman muncul Fast Forward Research yang mengorbitkan beberapa kelompok pemusik nasional, seperti Mocca, Pure Staurday, dan THE SIGIT. Pola jaringan pemasaran memanfaatkan kehadiran komunitas penikmat musik Indie. Promosi dilakukan melalui radio-radio dan majalah-majalah lokal yang semakin menumbuhkan kehadiran subsektor industri kreatif di kota ini.

Bagaimana kita melihat pertumbuhan industri kreatif di kota-kota di Indonesia dalam koteks perkembangan ekonomi global?

Kota Kreatif: Adaptasi Bersaing Kota-Kota pada Era Ekonomi Pengetahuan

Dalam definisi Rojal (2007), dengan merujuk kepada UK Departement of Culture, Media, & Sport (2001), industri kreatif adalah industri yang bersumberkan kepada kreativitas individu, keterampilan, dan bakat dan berpotensi untuk kekayaan dan penciptaan lapangan kerja melalui produk atau pemanfaatan kekayaan intelektual. Keberadaan industri kreatif sangat dipengaruhi oleh kehadiran yang dimaksud dengan individu kreatif.

Individu kreatif ini juga yang ditekankan oleh Richard Florida (2006). Florida mengistilahkan individu kreatif ini ke dalam konteks kelompok sosial atau kelas kreatif. Kelas kreatif ini merujuk kepada individu-individu yang bekerja dengan perlibatan ke dalam pemecahan masalah kompleks yang memerlukan penilaian independen yang besar dan tingkat pendidikan yang tinggi atau modal manusia. Perbandingan antara profesional bisnis dan industri kreatif berkisar antara 20 – 51% dari seluruh lapangan kerja dianggap sebagai padatnya human capital di suatu wilayah.

Florida membedakan antara super-creative core, yang meliputi: computer and math occupation, arsitektur, teknologi, dan lain-lain, serta creative professional, yaitu mereka yang bergerak dalam bidang managemen bisnis dan finansial yang beroperasi secara legal. Florida juga menekankan pentingnya pendidikan tinggi (universitas) sebagai institusi sentral untuk menghasilkan bakat-bakat yang akan menggerakkan ekonom kreatif dan pengembangan ekonomi regional terlebih dengan hadirnya perguruan tinggi sebagai pusat riset atau universitas bertaraf dunia.

Adanya keterbukaan ekonomi dan penerimaan terhadap keberagaman sangat mendukung munculnya kelompok-kelompok kreatif tersebut. Kondisi tersebut akan menciptakan penerimaan pula terhadap aliran barang, modal, dan juga orang-orang kreatif yang beragam dari berbagai kawasan.

Dalam konteks ekonomi pengetahuan, kehadiran kelas-kelas kreatif ini sangat dibutuhkan. Hal ini disebabkan pertimbangan bahwa ekonomi pengetahuan, atau industri yang menekankan pada penggunaan modal manusia yang sangat tinggi dan terutama berorientasi jasa, sangat mengandalkan kehadiran manusia-manusia yang terdidik dan memiliki skill yang tinggi. Hal ini dapat didorong melalui: (1) rezim ekonomi dan kelembagaan yang menyediakan insentif bagi pemanfaatan efisien dari pengetahuan, (2) penduduk yang terdidik dan terlatih, (3) infrastruktur informasi yang dinamis yang mampu memfasilitasi komunikasi, mendiseminasi, dan memprosesnya, dan (4) sistem pusat penelitian yang menciptakan pengetahuan sesuai kebutuhan lokal.

Dengan demikian, apa yang perlu disiapkan oleh sebuah kota kreatif dalam era ekonomi pengetahuan ini? Menurut hiptesis Winden, den Berg, dan Pol (2007), persiapan tersebut dengan memperhatikan aspek fondasi, yaitu aspek-aspek yang perlu dimiliki saat ini, dan aspek perkembangannya, yaitu aspek-aspek pengembangannya. Yang dimaksud dengan aspek dasar, bahwa:

  1.  Kota tersebut harus berbasiskan kepada pengetahuan (knowledge base)
  2. Struktur industri yang menekankan kepada spesialisasi, divesifikasi basis ekonomi yang mampu saling mendukung
  3. Kenyamanan dan kualitas hidup
  4. Aksesibilitas, termasuk dengan jaringan ekonomi yang mendunia
  5. Keragaman penduduk kota
  6. Skala kota, dengan pandangan bahwa kota yang lebih besar akan menarik lebih banyak perusahaan dan pekerja berpengetahuan
  7. Pemerataan sosial

Dari aspek perkembangan ada dua, yaitu: pengembangan institusi riset dan pengembangan industri pengetahuan yang baru.

Dalam kenyataan emiris, hanya beberapa kota-kota di dunia yang mampu memiliki kesemuanya. Dalam studi Winden, den Berg, dan Pol (2007), kelompok kota yang memiliki skor tertinggi terhadap seluruh indikator tersebut adalah Amsterdam, Helsinki, dan Munich. Di Asia, barangkali Singapura dapat menjadi contoh bagaimana kota tersebut mampu menarik sejumlah pekerja berpengetahuan dari seluruh dunia. Melalui kebijakan, seperti meningkatkan kualitas tempat tinggal di negara-kota tersebut, pemerintah Singapura memberikan kenyamanan yang tinggi bagi para pekerja tersebut yang mendorong produktivitas kotanya.

Bandung jelas tidak memiliki skor yang sempurna untuk seluruh indikator yang disebutkan di atas. Namun, Bandung memiliki dasar yang cukup kuat dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Indonesia untuk menjadi kota kreatif. Pertama, kota ini memiliki keragaman penduduk dan tingkat toleransi yang cukup tinggi. Kota ini menarik para pelajar dari berbagai daerah di Indonesia untuk mengenyam pendidikan tinggi. Hal ini turut meningkatkan jumlah penduduk produktif yang akan sangat menunjang keberadaan industri kreatif. Kedua, Bandung adalah kota metropolitan, yang akan sangat menguntungkan bagi bisnis kreatif dan menarik sejumlah penduduk dari wilayah-wilayah lainnya. Ketiga, Bandung memiliki perguruan tinggi yang akan mengasah bakat anak-anak mudanya.

Sayang sekali bahwa Bandung masih belum mampu menciptakan kualitas hidup yang baik bagi warga kotanya. Inefisiensi dalam berlalu lintas tergolong sangat parah, yang ditandai dengan kemacetan. Beberapa penduduk belum menikmati tinggal di permukiman dengan kualitas lingkungan yang baik, dilihat dari kelengkapan prasarana dan kualitasnya. Barangkali tidak seperti di Jakarta, aksesibilitas kota ini terhadap wilayah-wilayah lainnya masih kurang memadai. Begitu juga dengan akses terhadap layanan teknologi informasi yang masih belum dimiliki secara memadai oleh penduduknya. Namun, kondisi terakhir ini mulai berubah dengan layanan hot spot internet yang disediakan secara luas di berbagai lokasi. Kebaradan layanan teknologi informasi tersebut akan meningkatkan komunikasi orang dan bisnis di berbagai tempat di berbagai belahan dunia.

Secara perlahan, Kota Bandung mampu mengambil peluang dari perkembangan ekonomi pengetahuan yang berdampak terhadap kehadiran industri kreatif di kota ini. Perlu diakui, masih banyak yang harus diperbaiki sebelum kota ini menjadi KOTA KREATIF atau disebut sebagai tipe STAR dalam tingkat kompetitivitasnya (Winden, den Berg, dan Pol, 2007).

Apa yang Dapat Dikerjakan Bandung untuk Menjadi The Emerging Creative Cities?

Jika melihat konteks ekonomi global saat ini, Kota Bandung harus dapat berkompetisi dengan kota-kota lain di dunia untuk menjadi kota kreatif. Artinya, perekonomian kota dapat ditunjang oleh kehadiran ekonomi kreatif yang semakin berkembang yang sekaligus menjadi tulang punggung kota. Untuk menjadi salah satu kota percontohan dari kota kreatif di Asia Timur dan Asia Tenggara, dapat menjadi ukuran sementara adanya pengakuan Kota Bandung sebagai kota kreatif. Namun, Bandung jelas belum dapat dibandingkan dengan kota-kota lain di Amerika Serikat dan Eropa Barat yang telah lama mengembangkan industri kreatifnya. Tidak ada yang menyangkal bahwa Paris, New York, dan London menjadi kota fashion. Citra fashion pun melekat pada kota-kota tersebut. Dapatkan Bandung menjadi kota kreatif berikutnya yang dapat sejajar dengan kota-kota lain yang telah berkembang?

Tanpa suatu kebijakan kota yang terintegrasi dalam mengembangkan industri kreatif, nampaknya sulit untuk menjadikan Bandung sebagai kota kreatif. Dukungan politis yang kurang dapat kita lihat dari kebijakan pengembangan usaha dan masyarakat untuk menumbuhkan bisnis-bisnis di bidang ekonomi kreatif. Kondisi ini berbeda dengan Amerika Serikat yang pemerintah kotanya memiliki kebijakan terkait bisnis, seperti keringanan pajak bagi bisnis di sektor ini (The Ci. Dibutuhkan kebijakan kebudayaan yang diaplikasikan untuk kota secara sungguh-sungguh, seperti: mendukung pelestarian budaya lokal, urban heritage, dan perlindungan hukum terhadap karya pekerja seni (seperti: paten, merk, hak cipta, dll). Selain itu, dibutuhkan kebijakan yang meningkatkan investasi manusia bagi pekerja kreatif, yang memungkinkan anak-anak memperoleh pendidikan seni di sekolah dan komunitas.

Terdapat kecenderungan bahwa pemerintah Kota Bandung belum melihat potensi kreatif ini. Selama ini hubungan antara pemerintah kota – industri kreatif – pendidikan tinggi belum menyatu dalam suatu kerangka satu kelembagaan. Sebagian usaha kreatif adalah usaha informal yang belum berkontribusi terhadap pendapatan daerah. Pemerintah kota pun belum melangkah lebih jauh dengan memberikan peluang-peluang pengembangan usaha melalui berbagai cara. Padahal, dengan perkembangan usaha kreatif ini, terutama dalam bidang fashion, Bandung telah menjadi tujuan berlibur para wisatawan dari kota-kota di sekitar.

Saat ini sudah ada kolaborasi antara institusi pendidikan tinggi dengan industri kreatif, tetapi masih sangat terkotak-kotak. Pendidikan tinggi desain hanya mengurusi industri seni visual, desain, dan lain-lain, sementara pendidikan arsitektur hanya melihatkan industri arsitektur sendiri. Disamping itu, rantai industri belum terbentuk secara utuh (Simatupang, 2007). Jejaring komunitas pelaku usaha industri kreatif ini kemudian bergabung di dalam Bandung Creative City Forum (BCCF) yaitu pihak yang menggerlar Helarfest. Ini pun belum mempertimbangkan seluruh pelaku usaha yang terliput. Dengan demikian, kreativitas ini masih mengalami masalah keterpaduan antarberbagai pihak.

Sungguh tidak memungkinkan menjadikan Kota Bandung sebagai Kota Kreatif hanya dengan slogan. Bandung perlu memiliki visi jauh ke depan untuk menempatkan dirinya sebagai kota kreatif yang mampu bersaing dengan kota-kota lainnya. Potensi jelas ada, dengan adanya universitas berkualitas di kota ini sebagai inkubasi pengembangan sumber daya manusia dan bisnis. Selain itu, untuk meningkatkan kehadiran individu-individu kreatif perlu kualitas lingkungan yang memadai dan mendorong produktivitas, kreativitas, dan kelengkapan prasarana teknologi informasi. Mitchell (1999) mencontohkannya sebagai berikut:

“[ cities ] will need the right of sort of local attractions to retain the talent – in particular, pleasant and stimulating local environment, high quality educational and medical services, and sufficiently flexible transportation infrastructure and building stocks to accomadate rapidly reconfiguring pattern of activity.

Masih banyak yang perlu dibenahi oleh pemerintah kota dan masyarakat dalam perencanaan ruang kota, seperti: arahan zonasi ruang untuk menempatkan kegiatan rekreatif dan pertunjukan dan pengembangan infrastruktur untuk mewadahi perkembangan industri saat ini. Upaya-upaya tersebut tidak bisa dilaksanakan satu pihak, melainkan bersama-sama. [ ]

2008 © Gede Budi Suprayoga

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: