Urbanisasi dan Perlindungan terhadap Infrastruktur Astronomi Kita

Pada tanggal 19 – 28 Agustus 2008, IOA (Olimpiade Astronomi International) akan dilaksanakan di Indonesia, yaitu tepatnya di Bandung. Ada perasaan bangga bagi warga Bandung, yang dalam sejarah sains dan teknologi telah diakui secara nasional, kini menjadi tempat bagi penyelenggaraan event bersakala international (dalam bidang sains). Namun, di balik rasa bangga tersebut, ada perasaan malu bagi sebagian pihak (termasuk saya!) karena infrastruktur sains yang telah dimiliki tidak dapat dijaga dengan baik. Warga Bandung seakan lupa bahwa mereka memiliki warisan sejarah yang telah menghasilkan sejumlah ilmuwan dengan karya-karya yang diakui di dunia international, yaitu Observatorium Bosscha.

Urbanisasi yang tidak terkendali menyebabkan Obs. Bosscha semakin berkurang fungsinya. Obs. Bosscha kini “terkepung” oleh permukiman yang tidak saja menghasilkan polutan, tetapi juga gangguan terhadap aktivitas peneropongan (getaran, hamburan cahaya). Sayang sekali, berbagai kebijakan formal tidak mampu untuk mengendalikan perkembangan permukiman ini. Obs. Bosscha dihadapkan pada dilemma: melindungi kepentingan sains international atau kepentingan masyarakat (pemerintah) akan pengembangan ekonomi lokal.

Urbanisasi dan Dampak terhadap Infrastruktur Astronomi

Polusi cahaya merupakan persoalannya yang dihadapi oleh berbagai observatorium di dunia. Peran sebagai obs. sangat memerlukan kemecerlangan areal pengamatan pada sudut-sudut penting. Namun, seringkali keberadaan observatorium adalah di tempat-tempat yang tergolong strategis dalam pengembangan kota.

Berbeda dengan yang terjadi pada masa lampau, observatorium ataupun lokasi pengamatan sangat terlindung dari intervensi manusia, terutama terhadap polusi cahaya. Dengan menggunakan mata telanjang, pengamatan dapat dilakukan, terutama pada masa astronomi kuno.

Namun saat ini, hamburan cahaya yang berasal dari kota-kota menyebabkan timbulnya persoalan dalam mempertahankan tingkat “kegelapan” dari angkasa, dimana lokasi pengamatan berada. Faktanya, dua pertiga dari populasi di dunia tidak memperoleh angkasa yang gelap (Bakich, 2004). Terlebih bahwa urbanisasi di seluruh dunia mencapai taraf yang sangat cepat. Cinzano (2001) menyebutkan bahwa hanya lima puluh persen dari populasi dunia yang dapat melihat Milky Way. Urbanisasi mampu memisahkan kita dari lingkungan alam yang kita yang lebih luas, tidak hanya polusi, melainkan juga angkasa raya.

  1. Pembangunan observatorium maupun instalasi pengamatan benda langit mempertimbangkan berbagai faktor, di antaranya:
  2. Keadaan meteorologi/angkasa harus memenuh persyaratan penting yaitu iklim mikro stabil, bebas debu serta tidak ada polusi cahaya
  3. Keadaan geologi harus merupakan daerah yang stabil dan bebas getaran

3. Sesuai dengan sifatnya yang merupakan perangkat penelitian ilmiah, maka lokasinya harus mudah dicapai oleh masyarakat umum serta masyarakat ilmiah lainnya.

Namun, tidak semua tempat memiliki karakteristik demikian, sehingga penanganan terhadap infrastruktur astronomi menjadi spesial. Terutama apabila, infrastruktur astronomi tersebut membutuhkan biaya yang mahal untuk membangunnya. Jelas bahwa infrastruktur astronomi, terutama yang digunakan untuk pengamatan benda langit membutuhkan kondisi angkasa yang bebas dan debu dan terhindar dari polusi cahaya.

Kasus Kota Lembang

Observatorium Bosscha berada di Kota Lembang atau sekitar 20 km dari pusat Kota Bandung. Kota Lembang ini dalam dua puluh tahun terakhir berkembang dengan sangat pesat karena menjadi tempat untuk berwisata, terutama bagi penduduk Kota Bandung dan sekitarnya, maupun dari Jakarta. Setiap akhir pekan, kota ini ramai dengan dengan wisatawan dan juga rekreasionis. Selain itu, perluasan kawasan perkotaan sepanjang jalan utama dari Kota Bandung menuju Lembang menciptakan ribbon development yang semakin memperbesar gangguan terhadap fungsi observatorium, salah satunya hamburan cahaya pada malam hari. Studi oleh Senja (1999) memperlihatkan bahwa pada arah selatan dan timur terjadi hamburan cahaya yang berasal dari Kota Bandung dan berasal dari perkembangan Kota Lembang. Studi ini menjadi peringatan atas ancaman polusi cahaya yang mengancam keberadaan observatorium.

Cuaca yang sejuk menjadi keunggulan kawasan perkotaan ini. Selain itu, keberadaan objek data tarik wisata di sekitar menjadikan Lembang sangat tepat bagi lokasi wisata. Lebih lanjut, kehadiran wisatawan tersebut menimbulkan peluang bagi pemodal bagi pengembangan kawasan. Sejumlah pemodal, yang umumnya bukan orang lokal, menginvestasikan sejumlah uang bagi pembangunan hotel dan penginapan. Begitu juga dengan restoran yang seringkali terintegrasi dengan hotel. Ritel-ritel modern pun tumbuh di dalam kawasan perkotaan. Di samping itu, perumahan-perumahan formal tumbuh di sekitar kawasan yang semakin meningkatkan intensitas polusi cahaya yang berdampak terhadap fungsi observatorium. Saat ini saja, kawasan ini memiliki kepadatan penduduk yang tinggi, yaitu berkisar 3.126 jiwa per km2.

Sesungguhnya, kawasan ini, sedikit sekali memberikan peluang bagi pengembangan untuk kegiatan perkotaan. Hal ini dapat dilihat dari topografi yang terjal. Lebih dari 60% lahan di kawasan ini termasuk ke dalam kemiringan > 15%, sehingga beberapa di antaranya masuk ke dalam kawasan lindung. Dalam prakteknya, ternyata pembangunan permukiman dan akomodasi wisata menyentuh ke areal yang termasuk kawasan lindung ini.

Di tengah geliat pariwisata yang menghasilkan pundit-pundi bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD), pemerintah daerah seakan melupakan keberadaan Obs. Bosscha yang telah berdiri sebelumnya. Pada tahun 2004, Obs. Bosscha dan lingkungan sekitarnya mendapatkan status sebagai cagar budaya dari Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia melalui Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No. KM.51/OT.007/MKP/2004 tentang Penetapan Observatorium Bosscha yang berlokasi di wilayah Bandung sebagai Benda Cagar Budaya, Situs, atau Kawasan yang dilindungi UU RI Nomor 5 Tahun 1992. Namun, penetapan ini hanya melindungi benda dan tapak kawasan, tetapi tidak fungsi yang terkait dengan keberadaan observatorium. Selain itu, keputusan tersebut tidak berkaitan dengan kondisi tata ruang kawasan yang merupakan kunci utama dalam melindungi fungsi dari keberadaan observatorium.

Usaha yang Telah Dilakukan

Sejak awal tahun 1980 telah dikeluarkan perangkat kebijakan untuk mengendalikan pembangunan di dalam kawasan, di antaranya, terkait dengan pengendalian pemanfaatan ruang di kawasan lindung, seperti: SK Gubernur No. 181.1/SK 1624-Bapp/1982 sampai Perda Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kawasan Bandung Utara tahun 2007. Nampaknya, kebijakan-kebijakan tersebut kurang “mempan” dibandingkan dengan kekuatan pasar lahan. Pemerintah daerah selalu beralasan adanya hak-hak pemanfaatan lahan bagi masyarakat. Dengan demikian, pemerintah daerah tidak mungkin untuk mengatur peruntukan lahan karena menyangkut masyarakat sekitar yang membutuhkan pengembangan usaha. Padahal, lahan-lahan yang ada telah dijual kepada orang luar yang melihat adanya peluang usaha, seperti ritel dan akomodasi wisata.

Pada tahun 1989, Obs. Bosscha telah memiliki konsep perencanaan melalui RDTR Bosscha. Rencana ini menetapkan lingkungan kawasan Obs. Bosscha ke dalam empat kawasan yang disebut dalam zona kritis 2,5 km: (1) Penyangga I, (2) Penyangga II, (3) Kawasan Terbangun yang Ada, dan (4) Kawasan Luar. Dalam RDTR ini dibuat ketentuan-ketentuan terkait pembangunan meliputi rentang luas areal, mulai daro jarak 0 – 2,5 km. Selain itu, terdapat RUTR Kawasan Bandung Utara tahun 1998 yang secara khusus menyoroti keberadaan Obs. Bosscha, namun sayangnya tidak memiliki ketetapan hukum.

Berdasarkan Perda No. 1 / 2008 tentang Kawasan Bandung Utara, Obs. Bosscha mendapatkan “perlakuan khusus”. Obs. ini akan diintegrasikan fungsinya dalam penataan lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, diusahakan untuk membatasi jenis lampu yang digunakan di luar ruangan dan juga untuk papan iklan, melindungi lampu agar tidak menyebarkan cahaya, terutama pada radius 2 km, mengurangi periode penggunaan waktu di malam hari, mengurangi permukaan yang dapat merefleksikan cahaya dari matahari, menghijaukan kawasan, dll. Sesungguhnya usaha-usaha tersebut telah dimintakan agar

Namun, nampaknya masalah utama yang akan dihadapi oleh kawasan adalah persoalan klasik, yaitu urbanisasi yang dipengaruhi kekuatan pasar lahan. Hal ini yang menyebabkan keberadaan Obs. Bosscha, sebagai satu-satunya observatorium di Asia Tenggara, menjadi terabaikan. Beragamnya kepentingan yang terlibat menyebabkan timbulnya kesulitan dalam menjalankan rencana tata ruang yang telah ada. Bagi pemerintah daerah, Lembang sangat penting untuk meningkatkan pendapatan daerah dari keberadaan akomodasi dan fasilitas bagi wisatawan (mis. tempat parkir). Bagi investor, pengembangan lahan senantiasa ditujukan untuk pengembalian modl yang cepat, tanpa mempertimbangkan daya dukung kawasan maupun eksternalitas bagi pihak-pihak lain (seperti: keberadaan bauran lampu yang mengurangi kemampuan penangkapan cahaya benda langit oleh observatorium). Sementara itu, masyarakat membutuhkan tempat tinggal dan pengusahaan lahan bagi pengembangan ekonomi lokal yang menyebabkan pengendalian tata ruang bukanlah yang utama. Saat ini saja permukiman memiliki luasan yang sebanding dengan RTH yang ada, padahal beberapa bagiannya merupakan kawasan lindung. Selain itu, citra kawasan semakin buruk dengan adanya kemacetan dan meningkatnya jumlah polutan, terutama sampah dan asap kendaraan akibat meningkatnya kegiatan perkotaan.

Sayang sekali apabila infrastruktur astronomi kita yang kita banggakan dan berpotensi membantu anak-anak Indonesia unggul dalam bidang sains, akhirnya tidak berfungsi karena ketidakmampuan kita untuk mengendalikan urbanisasi. Perlu pemahaman bersama untuk melihat pentingnya pengendalian tata ruang dalam melindungi aset-aset krusial kota, sehingga dapat berfungsi dengan baik. Selain itu, sosialisasi mengenai sains perlu digalakkan di dalam masyarakat kita. Sangat menyedihkan bahwa masyarakat di sekitar observatorium tidak menyadari akan pentingnya infrastruktur astronomi kita bagi perkembangan sains. Oleh karena itu, ada hal-hal yang di luar perencanaan juga yang perlu disoroti dalam mengendalikan urbanisasi di Lembang. [ ]

2008 © Gede Budi Suprayoga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: